Sabtu, 13 Desember 2008

BUKU-BUKU YANG SEGERA TERBIT !!!

  • QUANTUM ASMA'UL HUSNA

  • Meraih Keyakinan yang Suci dan Ruhani yang Sehat dengan Bertauhid kepada Allah Swt.
  • Mengenal dan Meneladani Asma’ dan Sifat-Sifat Allah
  • Melesatkan Akhlak Ketuhanan Dalam Diri
  • Tangga Menuju Insan Rabbani
  • Pintu Menggapai Keberkahan dan Kebahagiaan Hidup Hakiki


Dalam buku ini saya ingin berbagi berkah abadi mengenai pesan ketuhanan dalam ayat di atas,“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani”. Mungkin pesan ini tampak sangat tidak bersifat duniawi bagi sebagian besar manusia. Dan tentu saja, sebagai dampak dari pengalaman di masa lalu, banyak agama-agama yang sangat menekankan kehidupan batin dan pencarian akan Tuhan terkadang mengabaikan urusan duniawi dimana ia hidup dan singgah untuk sementara kemudian melanjutkan perjalanannya menuju rumah keabadian. Bagi sebagian orang, kalimat “menjadi orang-orang rabbani” merupakan khazanah Tuhan yang tersembunyi dalam diri setiap manusia yang harus dieksplorasi dengan arif sehingga dapat berperan penting dalam dua aspek kehidupan: kecerdasanan spiritual dalam menggapai prestasi duniawi dan ukhrawi; cerdas dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai ‘abdullâh (cerdas melangit) dan khalîfatullâh (cerdas membumikan pesan-pesan ketuhanan-Nya) dalam seluruh bidang kehidupan.

· Mulailah dengan Menghafal Nama-Nama Allah Yang Terindah

Dalam setiap kajian keislaman yang saya bina, sering saya sampaikan kepada para jamaah bahwa, perlunya kita mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang indah. Kita telah mengakui bahwa Allah adalah Tuhan kita, namun sudah sejauhmana kita menghafal dan mengenal Dia melalui 99 nama-Nya sebagai pintu memasuki pengenalan akan nama-nama-Nya yang tak terhingga itu? Dari 20 hingga 40 orang yang hadir paling hanya 1 hingga 2 orang saja yang mengakui telah benar-benar menghafal lafadz dan bilangan secara runtut serta memahami makna yang terkandung di dalamnya. Hal ini dapat dijadikan indikasi bahwa keimanan kita kepada Allah masih dalam taraf baru percaya dan belum menjangkau pengenalan (makrifat) secara lebih dekat. Sabda Nabi Saw. yang menegaskan,

Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menghafalnya (menghimpun, memahami dan mengamalkannya) masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha Ganjil dan senantiasa menyenangi yang ganjil”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurayrah Ra. )

Saya berkeyakinan bahwa sabda Nabi Saw. ini sudah sangat populer di kalangan umat Islam tetapi mengapa banyak di antara kita yang tidak atau belum mengenal-Nya dengan baik? Apa yang membuat sebagian besar umat ini tidak menghafal dan memahami makna yang diindikasikannya? Mungkin banyak di antara kita yang lebih hafal dengan baik rumus-rumus fisika, matematika dan kimia, hafal lagu-lagu hits baik produk lokal maupun internasional, lebih hafal nama-nama tokoh legendaris dunia atau selebritis yang ada di seantero dunia daripada menghafal nama-nama Allah yang teramat indah itu. Tanyakanlah hal ini kepada diri Anda sendiri, kemudian kepada keluarga Anda, tetangga Anda, teman di pengajian Anda, rekan kerja/organisasi Anda, sahabat Anda atau orang lain baik yang Anda kenal maupun yang tidak Anda kenal. Bila jawabannya belum atau tidak maka paculah kemampuan diri Anda untuk mulai menghafal nama-nama-Nya yang indah itu, mohonlah kepada Allah agar Dia memberikan kemudahan bagi Anda untuk dapat menghafal dan memahami nama-nama-Nya dengan baik, serulah Dia dengan nama-nama-Nya itu di setiap waktu dan kesempatan dalam aktifitas Anda niscaya akan Dia hadirkan surga Rahmân-Nya, surga Rahîm-Nya hingga surga Shabûr-Nya dalam kehidupan Anda saat ini, dan pancaran cahaya nama-nama-Nya akan senantiasa mengiringi seluruh aktifitas Anda baik vertikal maupun horizontal. Inilah puncak keberuntungan dan keselamatan bagi seorang hamba di dunia hingga akhirat.

Agama Islam akhir-akhir ini hanya dijadikan obyek perdebatan di forum-forum diskusi atau seminar-seminar saja. Banyak pelaku dzikir hanya menikmati saat-saat paling sakral dalam hidupnya hanya ketika pelaksanaan ritual sedang berlangsung saja. Setelah itu, ketakutan, kegelisahan, kekalutan dan kemarahan kembali menyelimuti jiwa dan merasuki pelakunya. Kenapa demikian? Bukankah Allah Swt. melalui Rasul-Nya Muhammad Saw. telah mengajarkan cara-cara untuk mendekati, mengenal dan meneladani-Nya? Dalam al-Qur’an difirmankan,

“Hanya milik Allah Asmâ al-Husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut Asmâ al-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Kelak mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-A’râf [7]: 180)

Nama-nama Allah Yang Terindah (Asmâ al-Husna) itulah yang seharusnya dijadikan dzikir, wirid dan doa untuk melakukan pengenalan, pendekatan, dan pertemuan dengan wajah-Nya. Upaya itu merupakan suatu keniscayaan disertai dengan pemahaman makna, penghayatan tauhid, dan mengekpresikannya dalam kehidupan sebagai wujud peneladanan terhadap sifat-sifat-Nya yang terkandung dalam Asmâ al-Husna itu. Guru pembimbing ruhani penulis, al-Mukarram KH. Hamdani Bakran Adz-Dzakiey, telah mengajarkan dengan sangat baik bagaimana bentuk pengamalan wirid, dzikir maupun doa Asmâ al-Husna ini kepada penulis secara aplikatif dan empirik. Beliau mengajarkan saya untuk berorbitasi dalam setiap Asmâ al-Husna-Nya selama 40 hari disertai dengan i’tiqad (keyakinan) tauhid dan penghayatan yang mendalam, yang semua itu membutuhkan waktu 9 tahun lebih untuk dapat menyelesaikannya. Sungguh hal ini bukanlah proses yang dapat diakses secara instant, karena untuk dapat mendekati pada pemahaman yang sesungguhnya dibutuhkan proses dan waktu yang panjang. Dan bagi siapa pun yang ingin memperoleh pemahaman yang baik dan benar hendaknya mereka siap untuk berproses dan meninggalkan cara-cara yang instant.

Saya berharap buku ini dapat memberikan gambaran dan penjelasan yang cukup menyentuh bagaimana seharusnya seorang mukmin maupun manusia pada umumnya dapat mengembangkan kepribadiannya dengan baik dan benar serta sempurna melalui pemahaman, pengenalan, penghayatan, pengamalan, peneladanan dan pengalamannya tentang Asmâ’ul Husnâ dalam berbagai aspek kehidupannya, sehingga dari sana akan terjadi lompatan besar (quantum) untuk mengevolusi dan mentransformasi dirinya dari setetes air yang hina menjadi segumpal darah dan dari segumpal darah menjadi insân kamîl (manusia sempurna); dari akhlak madzmûmah (kepribadian tercela) kepada akhlak mahmûdah (kepribadian terpuji); dan dari akhlak insani kepada akhlak rabbani (kepribadian ketuhanan). Dengan kepribadian itu, maka akan lahir pula “etos kerja dan kinerja ketuhanan” yang akan membawa kepada rahmat bagi seluruh aspek kehidupan di permukaan bumi ini. Insyâ Allah individu atau kelompok akan terhindar dari “etos kerja dan kinerja kesetanan” yang dapat membawa hidup dan kehidupan ini kepada kehancuran, kenistaan dan kehinaan yang berkepanjangan di dunia hingga di akhirat.

Saya juga berharap buku ini memiliki arti bagi mereka yang aktif di dunia pendidikan, politik, sosial, ekonomi, budaya, di dunia pemerintahan maupun swasta, dan berbagai bidang kehidupan lainnya, serta mereka yang mulai merasa bahwa ada hal yang hilang dalam kehidupan dan pekerjaan atau profesi mereka, betapa pun berhasilnya. Mereka mungkin mulai merasa tertekan dengan berbagai problematika kehidupan, berbagai perasaan kecewa, atau sedang menemukan diri mereka kelelahan mengikuti hasrat yang terus-menerus akan dunia, serta hal-hal yang memabukkan dari aktifitas kehidupan mereka yang tidak seimbang antara pemenuhan ruhani dan ragawi serta ukhrawi dan duniawi.

Pada saat yang sama, saya juga berharap dapat menjelaskan bagaimana kita aktif di dunia yang serba-materi sembari tetap fokus dengan cita-cita ukhrawi atau spiritual kita dan menyesuaikan diri dengan spirit ketuhanan yang terdapat dalam nama-nama atau sifat-sifat-Nya yang terindah. Dapatkah kita melakukan lompatan besar dengan menghadirkan sifat-sifat ketuhanan dalam diri tanpa berpaling dari dunia fana ini? Ilmu Tasawuf Islam menunjukkan bagaimana hal ini mungkin terjadi dalam kehidupan pribadi kita, dan bagaimana pekerjaan serta berbagai aktifitas kita menjadikan kita sebagai hamba yang beruntung (al-muflihûn). Islam memandang bahwa semakin banyak orang yang memulai bekerja atau aktifitasnya dengan Asmâ’ul Husnâ dan spirit ketuhanan, maka eksistensi diri pelakunya akan dipenuhi keberkahan dan kasih sayang Allah. Sehingga banyak karakteristik yang tidak sehat, tidak adil dan tidak baik yang terbit dari diri manusia perlahan-lahan akan lebur oleh kekuatan Asmâ’ul Husnâ-Nya.

Asmâ’ul Husnâ ini juga sangat penting bagi perkembangan kepribadian manusia, yang sering kali terperangkap antara nilai-nilai dogmatis agama dan spiritual mereka serta dampak pola pikir yang sektarian dan jumud. Hal ini membawa kepada stadium konflik yang sangat akut antara individu dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, dengan lingkungan keluarganya, dengan lingkungan kerja/organisasinya, dengan lingkungan sosial/masyarakatnya, dan dengan lingkungan alam semestanya, yang dapat memicu berbagai macam reaksi negatif dan ekstrem. Semoga perspektif “Quantum Asmâ’ul Husnâ” yang ditawarkan buku ini dapat memberikan inspirasi dan motivasi kepada siapa pun yang ingin melakukan lompatan besar kepribadiannya menuju akhlak ketuhanan di era ‘akhir zaman’ yang penuh kekalutan, kebingungan, dan berada di ambang kehancuran dunia ini.

Usaha yang saya lakukan ini ibarat butiran pasir di lautan pasir bila dibandingkan dengan upaya para Nabi dan Rasul, juga para auliya’ serta ulama Allah dalam memahami, memaknai, dan menguraikan hikmah-hikmah Asmâ’ul Husnâ-Nya ini, sehingga dapat mengevolusi dan mentransformasi dirinya dari segumpal daging menjadi insan rabbani atau insan kamil, hal yang demikian sebagai teladan bagi seluruh umat manusia. Semua yang diuraikan dalam buku ini bukanlah makna yang sesungguhnya, ia hanya sebagai pengantar bagi para “pencari” kebenaran sejati. Untaian kata ibarat mutiara yang masih terpendam di dalam cangkang kerang, makna sejatinya masih terjeraqt oleh ikatan-ikatan bumi. Agar dapat menemukan hakikat tak terbatas dari makna itu ia harus lepas dari jeratan-jeratan materi menuju peleburan wujud (fana) dan penyatuan dengan Yang Tak Terbatas (baqa). Ibarat setetes air yang sekali pun setetes saja, tetapi sekali mencapai lautan tak bertepi, ia tidak lagi menjadi hanya setetes, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari lautan wujud itu.

Apabila ada kebenarannya maka hal itu mutlak adalah milik Allah Swt. semata, dan apabila terdapat kesalahan di dalamnya, hal itu tidak lain adalah semata-mata kelemahan dan kesalahan dari diri saya pribadi. Semoga Allah Swt. senantiasa menolong dan membimbing kita untuk selalu meneladani sifat-sifat-Nya yang agung, sehingga kita akan selalu berada dalam jalan kebenaran dan keselamatan-Nya di dunia hingga akhirat.


SEGERA TERBIT ...




  • SATU ISTRI EMPAT RASA

Panduan Praktis Bagi Kaum Wanita Untuk Menemukan Hakikat Dirinya Sebagai Bidadari-Nya Yang Memancarkan Cahaya Jalâliyah (Keagungan), Jamâliyah (Keindahan), Qahhâriyah (Keperkasaan), Dan Kamâliyah (Kesempurnaan) Allah Swt., Serta Kaum Pria Menemukan Hakikat Dirinya Sebagai Pintu Surga-Nya Yang Berlimpah Kenikmatan-Kenikmatan-Nya Dalam Kehidupan Suami-Istri


Perkawinan atau pernikahan adalah sunnatullah pada hamba-hamba-Nya dan sunnah Rasulullah Saw. pada seluruh umatnya. Kehidupan dunia ini laksana sebuah samudera, dengan perkawinan, Allah menghendaki agar manusia dapat mengarungi samudera dengan bahtera cinta dan kasih sayang-Nya. Untuk mencapai tujuan perkawinan yang sakinah, mawaddah dan rahmah maka Allah memberikan pedoman al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya sebagai kompas agar tidak tersesat di dalamnya sehingga menjadikan jalan baginya untuk berjumpa Allah.

Islam sangat konsen dalam memberikan kontribusinya bagi pemahaman, pengamalan dan pengalamannya dalam menjalani kehidupan rumah tangga sesuai dengan sunnatullah dan sunnah Rasulullah. Segala sesuatu yang ada dalam diri manusia pada hakikatnya tidak pernah terlepas dari didikan dan pengajaran Allah Swt. Pola hidup seorang mukmin haruslah diatur menurut sebab dan kondisi yang sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Manusia membutuhkan pasangannya demi eksistensi dan kelangsungan hidupnya, dan terdapat aturan yang jelas yang telah ditetapkan-Nya dalam hal perkawinan. Perkawinan merupakan sarana yang harus ditempuh oleh manusia untuk menggapai kesempurnaan hidup. Semua yang ada pada lembaga perkawinan ini akan mengingatkan manusia kepada surga dan apa yang disediakan Allah bagi orang-orang yang dicintai-Nya. Istri bagi suami adalah bidadari surga, dan surga adalah rumah bagi orang yang hidup. Perasaan ini akan mendorong dan memberi spirit kepada manusia untuk menghadirkan kenikmatan surga di dalam rumah tangganya di dunia ini.

Orang-orang yang berusaha menemukan hakikat dirinya tidak menempuh jalan yang di dalamnya terdapat hal-hal yang berlawanan saling berhadapan. Semua itu bermuara dari dalam hati manusia, tempat segala rasa berpadu dan berorbitasi menurut kadarnya masing-masing. Seorang laki-laki dapat saja berkata, ”Istriku satu tetapi rasanya seperti empat.” Dan seorang wanita pun dapat merasakan hal yang sama bahwa, ”Suamiku satu namun rasanya empat.” Maka semua itu adalah masalah rasa (dzauq), dan banyak orang yang terjebak dalam hal kehampaan rasa ini sehingga tidak pernah merasa puas dengan pasangan hidupnya. Di tengah kehampaan rasa inilah mereka terkadang mencari sensasi lain yang tidak mereka temukan dalam diri pasangannya masing-masing dengan berbagai jalan, baik yang hak maupun yang batil, yang halal maupun yang haram, yang legal maupun yang ilegal. Manusia memiliki kecenderungan terhadap perubahan cita rasa, bergerak, berjalan, meninggalkan persoalan dan mencari kesenangan dan kenikmatan yang tidak pernah mereka temukan padahal sangat nyata untuk diraih. Kita menyaksikan setiap hari di sekeliling kita, banyak orang yang berusaha mencari kenikmatan seksual dengan berbagai jalan menurut kondisi aktual mereka, dari satu tubuh ke tubuh lainnya tanpa menemukan kepuasan yang sesungguhnya. Padahal ketika seorang laki-laki mencapai klimaks dalam hubungan seksualnya ia hanya merasakan satu sensasi rasa yang sama meskipun dengan pasangan yang berbeda. Jadi, apa yang sebenarnya mereka cari? Apakah mereka dipermainkan oleh kehampaan perasaannya sendiri sehingga tidak mampu merasakan perasaan yang sesungguhnya? Ketahuilah bahwa dalam diri pasangan kita masing-masing ada berbagai cita rasa yang akan menjadi suatu kenikmatan yang tak akan habis-habisnya untuk nikmati andai saja kita mau mengolahnya.

Mungkin sebagian orang mengerutkan dahinya ketika mendengar tema sentral buku ini “Satu Istri Empat Rasa”. Kalimat ini memang tidak akrab di telinga sebagian besar orang, tetapi kalau Anda mau mencermatinya secara mendalam, maknanya sungguh sangat tinggi karena di dalamnya memuat nilai-nilai kebenaran hakikat dan hakikat kebenaran. Jujur saja, hal ini agak sedikit njelimet untuk dibahasakan dalam wacana yang membumi, karena sebagian orang berasumsi bahwa ini seperti imajinasi saja atau sekadar fantasi rasa belaka.

Memang uraian di buku ini tidaklah sesederhana dan segampang yang dapat dituliskan dengan hanya mengomentari pendapat-pendapat orang lain, karena buku ini menawarkan wacana yang baru dan tidak umum menurut pendapat sebagian besar kalangan. Namun begitu, saya tetap berupaya agar wacana baru ini menjadi mudah dipahami dan mudah diaplikasikan dalam ranah kehidupan suami-istri yang tentunya mereka tidak ingin ada pria atau wanita idaman lain yang dapat merusak keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangganya.

Peristiwa-peristiwa dalam kehidupan masyarakat kita yang paling menonjol akhir-akhir ini adalah problematika individu dengan lingkungan keluarganya; fenomena perselingkuhan, perzinaan hingga poligami yang sah dan yang hipokrit (ilegal). Bahkan tidak sedikit orang yang telah berkeluarga yang lebih memilih untuk melakukan perselingkuhan ketimbang yang memelihara kesetiaan dengan pasangan sahnya. Ironisnya lagi, ada sebagian kalangan memplesetkan arti selingkuh dengan selingan indah, namun keluarga tetap utuh”.

Kita dapat menyaksikan setiap hari bagaimana rapuhnya ikatan-ikatan keluarga di sekitar kita; retaknya pondasi-pondasi perkawinan; mengelaknya orang-orang dari tanggung jawab perkawinan; keengganan kaum wanita menjalani kodratnya untuk berperan yang sesungguhnya sebagai ibu dan laki-laki sebagai bapak; miskinnya suri teladan yang penuh kasih sayang kebapakan dan keibuan yang hakiki; berpihaknya diri kepada kepentingan hawa nafsu sesaat ketimbang kasih sayang yang Islami. Dan pada puncaknya makin meningkatnya kekerasan terhadap pasangan (KTP) juga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT); asingnya keterpaduan dan kesetiaan dalam kehidupan rumah tangga; membludaknya jumlah anak-anak haram di luar pernikahan yang sah di mata Allah; aneka bentuk kenakalan remaja hingga orang tua; meningkatnya penderita stress dan depresi serta gangguan-gangguan kejiwaan lainnya. Yang paling memprihatinkan lagi adalah meningkatnya jumlah perselingkuhan dan perceraian yang mana hal ini dijadikan pembenaran sebagai ‘sebuah solusi terbaik’ atau ’pelarian’ bagi mereka yang sedang bermasalah dalam kehidupan berkeluarganya. Konon, di hampir setiap Pengadilan Agama yang ada di kota-kota besar di Indonesia ini daftar-daftar pasangan suami-istri yang ingin melangsungkan perceraiannya semakin membludak dan menunggu antrean panjang untuk meresmikan putusan perceraiannya. Dan konon lagi, menurut buku catatan Malaikat Atid As. (Malaikat yang bertugas mencatat segala bentuk keburukan yang dilakukan manusia dengan teliti, rinci, akurat dan berimbang) sangat banyak jumlah pasangan suami-istri yang melakukan selingkuh dengan orang lain secara ilegal, baik secara fisik maupun non fisik.

Sungguh sangat patut untuk disesalkan bahwa banyak orang yang tidak atau belum memahami dan menghayati hakikat, makna, fungsi, niat, i’tikad, tujuan dan maksud perkawinan secara utuh dan sempurna, yang pada hakikatnya adalah suatu jalan bagi manusia untuk dapat mengadakan perjumpaan dengan Tuhan-Nya. Sehingga hal itu berdampak tidak dapatnya seseorang menyerap hikmah-hikmah ‘surgawi’ di dalam mahligai rumah tangganya. Banyak orang beranggapan bahwa masalah-masalah yang berhubungan dengan perkawinan itu seperti halnya persoalan berbelanja pakaian di pasar-pasar, di butik-butik ataupun di fashion center, yang dapat dengan mudah dicocokkan dengan ukuran tubuh seseorang atau yang sesuai dengan selera pemakainya. Atau cukup bagi mereka persoalan-persoalan dalam rumah tangganya itu diselesaikan melalui berbagai macam improvisasi lain di luar pernikahan yang diridhai Allah. Tetapi tidak pernah mengantisipasi sebelumnya dan mau menyadari ‘mengapa hal ini terjadi dan bagaimana solusi terbaik untuk menyikapinya serta mencari jalan keluarnya yang terbaik?’

Maksud dan tujuan perkawinan adalah untuk menghadapi berbagai macam problematika hidup dan kehidupan manusia itu sendiri. Allah Swt. telah menawarkan pilihan-pilihan, solusi-solusi dan metode-metode di dalam membina rumah tangga dan keluarga yang bahagia berlandaskan prinsip-prinsip keimanan, keislaman, keihsanan dan ketauhidan serta ketakwaan kepada Allah dan sunnah Rasulullah Saw. Bagaimana kaum Muslimin dapat hidup berkeluarga itu sesuai dengan Sunnah Allah dan Sunnah Rasulullah Saw., sehingga kehidupan berumahtangganya sakinah, mawaddah dan rahmah.

Banyaknya angka perselingkuhan atau perzinaan, sehingga semakin menjauhkan kehidupan berumahtangga dari komitmen kesetiaan; semakin rapuhnya ikatan keluarga; terkesan individualistis; egoisme kaum laki-laki semata; suburnya budaya hedonistis; perbudakan dan pelecehan terhadap hak-hak asasi kaum wanita dan ungkapan-ungkapan bernada miring lainnya. Sungguh hal itu sangat bertolakbelakang dari nilai-nilai keimanan, keislaman, keihsanan dan ketauhidan. Dalam Islam, pernikahan itu seharusnya indah dan membahagiakan sepanjang hal itu didasari oleh niat, iktikad, tujuan dan maksud yang baik dan benar serta adanya keadilan dan kejujuran dalam membangun ‘rumah tangga suci’ yang menjadi dasar tata sosial ummat (hablun minan-nâs) dan tata spiritual kaum Muslimin (hablun minallâh). Sistem perkawinan yang sempurna menurut Islam merupakan sarana (lembaga) pensuci (penyeteril) hawa nafsu syaithaniyyah, nafsu hayawaniyyah dan nafsu insaniyyah yang melekat pada jiwa, qalbu, akal, inderawi serta fisik, sehingga akan mampu mengangkat hakikat diri dan keluarganya dari kebiadaban kepada peradaban; dari akhlak madzmumah kepada akhlak mahmudah atau akhlak karimah; dari akhlak insaniyyah kepada akhlak Rabbaniyyah (ketuhanan); dan dari keterhijaban kepada perjumpaan dengan Allah dalam ridha dan cinta-Nya.



SEGERA TERBIT...

  • MUKJIZAT SHALAT-SHALAT SUNNAT RASULULLAH

“Cara Rasulullah Saw. Menikmati Cinta Ilahi

Dalam Mihrab Shalat-Shalat Sunnatnya”

“Carilah penyejuk mata hatimu pada tiga tempat. Pertama, saat shalat; kedua, saat membaca al-Qur’an; ketiga, saat mengingat mati. Jika engkau tidak menemukannya kesejukan di tiga tempat tersebut, mintalah kepada Allah agar menganugerahkan qalbu kepadamu. Sebab, engkau tidak mempunyai qalbu lagi.”

Shalat adalah cahaya yang memancar dari qalbu seorang mukmin. Ia mencerahi wajahnya dan terpantul pada semua eksistensi dirinya. Dengan cahaya inilah Allah membimbing pendamba ridha-Nya dan perindu cinta-Nya menuju pelbagai jalan keselamatan dan kedamaian hakiki.

Damainya diri bersama Allah dalam shalat, dan kegemaran menegakkan shalat-shalat sunnat di samping shalat fardhu telah berperan penting dalam kehidupan spiritual Rasulullah Saw. dan kaum muslimin yang setia menapaki jejak-jejak sucinya. Oleh karena itu, waspadalah untuk tidak membatasi dirimu hanya pada shalat fardhu saja dan enggan atau malas menegakkan shalat-shalat sunnat, sebab engkau akan kehilangan manfaat yang sangat banyak, bahkan, pengalaman tentang rahasia dan hikmah shalat tidak akan pernah sempurna engkau raih dalam kehidupan ini. Jadikan dirimu gemar menegakkannya, sebab ibadah shalat fardhu akan sempurna bila diiringi dengan shalat-shalat sunnat.

Allah Swt. berfirman, “Tidaklah seorang hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan tidaklah seorang hamba terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Dan bila Aku mencintainya, menjadilah Aku pendengarannya yang digunakannya mendengar; penglihatannya yang digunakan melihat; tangannya yang digunakannya menggenggam; dan kakinya yang digunakan melangkah.” (HQR. Bukhari dari Abu Hurayrah Ra.)

Menyibak rahasia dan hikmah shalat-shalat sunnat Rasulullah Saw. dalam buku ini akan membawa kita menemukan penenteram jiwa, penyejuk matahati, penyembuh duka nestapa dan membawa kita menggapai kebahagiaan serta kedudukan yang terpuji di sisi-Nya. Ketahuilah, bahwa penyejuk matahati Rasulullah Saw. ada di dalam shalat. Selamat membaca, mengamalkan dan menikmati cinta Ilahi dalam mihrab shalat-shalat sunnat …


SEGERA TERBIT....


  • MENGHADIRKAN CAHAYA AL-QUR'AN DALAM DIRI

Mewujudkan Manusia Qur’ani Melalui Praktek Pengamalan Pesan-Pesan al-Qur’an Dalam Aktivitas Kehidupan”


Keluasan, kedalaman dan keindahan samudera al-Qur’an tidak mungkin dapat diukur dan ditandingi oleh samudera-samudera yang ada di dunia ini. Setetes ilmu yang kita reguk dari samuderanya tiada bandingnya dengan ilmu-ilmu hasil cipta, rasa dan karsa manusia.

Menyelami samudera al-Qur’an tidak akan pernah habis-habisnya. Hari ini kita menyelaminya, besok kita menyelaminya, lusa kita menyelaminya akan berbeda makna dan nilainya, selalu lebih baik dan lebih baik lagi nilai keindahan dan makna kebenaran yang kita peroleh di dalamnya. Ibarat meminum air di dalam samuderanya, semakin banyak yang kita minum tentu akan semakin bertambah dahaga kita.

Menembus cahaya al-Qur’an akan dapat mengevolusi dan mentransformasi pola berpikir, berkeyakinan, berperasaan, bersikap, berprilaku, berpenampilan dan berkarya manusia dari skala yang kecil kepada skala yang besar, yang jahil kepada yang berilmu, yang sesat kepada petunjuk, yang batil kepada yang haq, yang gelap kepada yang terang, yang hina kepada yang mulia, yang rendah kepada yang tinggi, dari kufur kepada iman, dari keraguan kepada keyakinan, dari musyrik kepada mukmin, dari segala sesuatu yang dibenci Allah kepada segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah.

Petunjuk atau pun pesan-pesan mulia yang diberikannya mencakup seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia, yang bila dipraktekkan dan diimplementasikan secara baik dan benar serta konsisten, pasti dapat menciptakan “manusia Qur’ani”, yang memiliki nilai-nilai, potensi dan spirit (ruh) al-Qur’an yang sempurna dalam eksistensi dirinya. ·



SEGERA TERBIT....

  • THE PATH TO LOVE "JALAN MENUJU CINTA"

Panduan Sederhana

Menjadi Pribadi Yang Dicintai

Cinta itu adalah sesuatu yang indah, sedangkan iman kepada Allah adalah perhiasannya. Cinta mampu menghadirkan energi kedamaian dalam hati orang-orang yang merasakannya, serta akan mendorong manusia untuk berbuat sesuatu yang indah dan pengurbanan tanpa batas.

Demi cinta, segala yang mustahil tampak biasa. Orang yang bercinta akan selalu menjaga dan memelihara hubungannya. Jika cinta datang, jangan bertanya: “Apa yang akan terjadi?” Sebab, cinta akan memperbaiki apa yang rusak, membangun kembali apa yang roboh, menyalakan apa yang padam, menerangi yang gelap gulita, memecahkan kebisuan, mencairkan kebekuan, melunakkan yang keras dan menghidupkan apa yang ‘mati’.

Dengan cinta, yang bersedih terhibur dan yang dibelenggu merasa bebas. Akan tetapi, ingatlah bahwa cinta tidak akan bermanfaat kecuali bagi mereka yang mampu menempatkannya dalam wadah yang sesungguhnya.

Lautan cinta sangatlah luas dan dalam, ombaknya besar dan membahayakan, wajahnya lembut tetapi perbuatannya kuat sekuat atom. Orang yang bercinta akan mempersembahkan dirinya sebagai mahar, harta bendanya sebagai bukti kemurahan hatinya, waktunya sebagai bukti kesetiaannya, dan kehormatan dirinya sebagai bukti kerendahan hatinya di hadapan yang dicintainya.

Sesungguhnya cinta yang sejati itu hanya untuk Zat yang memiliki keagungan, keindahan, keperkasaan dan kesempurnaan. Maka, yang harus menjadi cita-cita utama kita adalah mendapatkan ridha Allah dan selalu memperoleh cinta dari-Nya, dan Allah Swt. berfirman: “Suatu kaum yang Allah mencintai mereka, mereka pun mencintai-Nya.” (QS. al-Mâidah [5]: 54).

Terbentang banyak jalan bagi seorang hamba untuk menjadi kekasih-Nya. Menyibak lembar demi lembar buku ini akan membawa kita menapaki berbagai jalan yang dapat mengantarkan kita meraih cinta-Nya.


SEGERA TERBIT...



  • CINTA DARI LANGIT

Gelar, Popularitas dan Kemuliaan Para Kekasih Allah



Mendengar kata “Kekasih Allah” maka akan terbayang dalam benak kita betapa kemuliaan dan keistimewaan yang Allah berikan kepada mereka. Akan tetapi, semua kemuliaan dan keistimewaan itu bukannya diperoleh tanpa adanya proses perjalanan yang panjang dan berat. Berbagai rintangan, godaan dan tipu daya selalu menghampiri mereka. Dari hikmah-hikmah yang telah mereka raih itulah kita diharapkan dapat meneladani kehidupan mereka, bagaimana mereka meraih popularitas dan gelar yang agung di sisi Allah. Hal ini akan memotivasi diri kita untuk berlomba-lomba meraih sebagaimana yang telah mereka raih dan akan menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk menjalani proses perjalanan kehidupan kita di dunia hingga akhirat kelak. Mungkin, bagi sebagian orang istilah “Kekasih Allah” masih asing di telinganya atau ada juga yang beranggapan bahwa “Kekasih Allah” itu identik dengan seseorang yang berperilaku “harq al-‘adah,” berlawanan dengan adat kebiasaan manusia pada umumnya atau menampakkan hal-hal yang luar biasa. Misalnya, mampu berjalan di atas air, mampu menghilang dan melakukan hal-hal yang menakjubkan lainnya. Namun, pemahaman seperti ini tidak selalu relevan dalam hal ini, karena pengertian “Kekasih Allah” tidak hanya ditujukan kepada seseorang atau pun kelompok elite tertentu saja. Akan tetapi, pengertian yang dimaksud di sini adalah mereka yang tunduk dan berserah diri kepada Allah Swt. dengan melaksanakan segala ketaatan, menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan sabar menjalani berbagai macam ujian-Nya, sehingga Allah menganugerahkan mukjizat, irhas, karamah dan ma’unah (pertolongan dan perlindungan)-Nya. Mereka terdiri dari golongan para Nabi, Rasul, dan orang-orang shalih yang hidup di masa para Nabi dan Rasul Allah hingga akhir zaman

Para kekasih Allah adalah hamba-hamba Allah yang terpilih, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya,

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus [10]: 62-64)


Mereka juga diakui oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Sesungguhnya ada golongan hamba Allah yang bukan termasuk nabi dan bukan pula syuhada’, yang pada hari kiamat nanti mereka menempati tempat para nabi dan syuhada’.” Para sahabat lalu bertanya, “Ya Rasulallah, beritahu kami siapa mereka itu? Apa pekerjaan mereka? Semoga kami bisa mencintai mereka.” Nabi menjawab, “Mereka adalah satu kaum yang saling mencintai karena Allah, bukan karena hubungan satu rahim, juga bukan karena harta yang mereka miliki. Demi Allah, wajah mereka bercahaya. Mereka berada di atas mimbar cahaya, mereka tidak pernah merasa takut ketika orang-orang ketakutan, mereka juga tidak bersedih ketika orang-orang merasa sedih.” (HR. ‘Umar bin Khaththab Ra.). Demikianlah penjelasan Rasulullah Saw. di antara orang-orang yang termasuk sebagai “Kekasih Allah” dan menduduki kedudukan layaknya para nabi dan syuhada’ di akhirat kelak.

Buku ini tidak membahas sejarah atau perjalanan hidup sebagaimana buku-buku yang ditulis oleh sejarawan Islam seperti Ibnu Katsir, Haikal, Shafiyyurrahman al-Mubarakfury, dan lainnya, namun bertujuan untuk menyibak hikmah-hikmah, gelar, popularitas dan kemuliaan-kemuliaan yang telah diraih oleh para Kekasih Allah di sisi-Nya sepanjang sejarah kehidupan in


SEGERA TERBIT...


























Tidak ada komentar:

Posting Komentar